Baru-baru ini saya mendapat undangan pernikahan dari dua
orang teman sewaktu smp. Turut berbahagia membaca undangan yang menyiratkan
rasa syukur dan bahagia dari kedua orang teman saya itu. Barokallahu lak, wa
baroka 'alaik, wa jama'a baynakumaa fil khoir...
Teringat kembali kisah pertemuan Tante dan Om saya.
Tak terasa sudah 4 tahunan lamanya mereka disatukan dalam keindahan ibadah yang
bernama pernikahan.mereka dipertemukan Allah dalam waktu yang sangat
singkat, hanya sebulan, sebelum akhirnya sepakat melangsungkan pernikahan.
Padahal sebelumnya sama sekali tidak saling kenal.
Salah seorang teman saya di atas malah sebaliknya.
Bertahun-tahun mereka saling kenal. Tak ada berita sedikitpun keduanya menjalin
kasih sebelum itu. Tiba-tiba datang undangan yang cukup mengejutkan hampir
semua orang yang mengenalnya.judulnya 'hubungan rahasia' yang alhamdulillahnya
diakhiri (atau diawali?) dengan pernikahan.
Jodoh oh jodoh... benar -benar rahasia Allah yang tidak
terduga. Ada orang yang sudah bertahun-tahun pacaran, tapi tak kunjung menikah,
akhirnya malah menikah dengan orang yang baru beberapa hari ditemui.
Ada juga tetangga saya yang aktifis dakwah kampus.
Suaminya aktifis di tempat yang sama. Sering beradu argumen dalam rapat-rapat
kepengurusan. Sampai panas-panasan kalau sudah berdebat. Tahu-tahu dijodohkan
Allah setelah beberapa tahun lepas dari kepengurusan. Saya tidak tahu, apakah
aksi adu debatnya terus berlanjut setelah mereka menikah atau tidak
Ada juga seorang teman yang jatuh cinta dengan sesama
aktifis di kampus. Tahu-tahu pas lulus orang yang disukainya itu dilamar orang.
Dan berjodoh dengan orang yang baru dikenalnya. Patah hati? mungkin sedikit,
tapi life must go on... ada cita-cita yang lebih besar, yang perlu perhatian
besar, dari pada berlama-lama menata hati yang hancur. Bagi saya, inilah
bingkai keimanan yang selalu positif dalam merespon takdir Allah, seberapa pun
menyakitkannya takdir itu...
Ada juga orang-orang yang sampai di usia mapan belum juga
mendapatkan seorang pendamping. Mungkin alasannya bermacam-macam. Belum ketemu
yang cocok, fisik calon yang disodorkan kurang sempurna, sampai masalah
pendapatan yang belum cukup untuk menghidupi anak isteri dalam kehidupan yang
keras ini.
Bagi saya sebenarnya cuma satu saja alasannya, Allah belum
mentakdirkannya menemukan belahan jiwa. Yang saya maksud dengan takdir itu
adalah seluruh usaha untuk memenuhi takdir itu, mau pun ketetapan Allah dalam
perjodohan itu sendiri. Dalam hal ini sulit untuk dipaksakan. Masalah selera,
kecenderungan jiwa akan keindahan dan kesholihan adalah hak prerogatif setiap
orang. Meskipun masalah keimanan kepada takdir Allah tercakup di dalamnya. Dan
seharusnya, bagi setiap muslim, masalah keimanan inilah yang utama.
Ya... itulah. Sulit kalau membicarakan topik yang satu ini.
Karena ini merupakan satu dari rahasia Allah yang sangat banyak jumlahnya di
dunia ini.
Robbanaa hablanaa min azwaajina wa zurriyyatinaa qurrota
a'yun, waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa..
(Ya Allah, berikanlah pasangan dan anak-anak yang menjadi
penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang
bertaqwa)
-Do'a yang diambil dari Al-Qur'an-